Kupang mempunyai habitat di laut. Cara hidup kupang bergerombol di dasar perairan bercampur lumpur dan pasir (Purwati, 2001). Laut yang menjadi tempat bermuaranya sungai, telah menjadi tempat berkumpulnya zat-zat pencemar yang dibawa oleh aliran sungai tersebut. Zat-zat pencemar yang ada di sungai berasal dari limbah pabrik atau limbah rumah tangga yang semua merupakan hasil kegiatan manusia. Banyak industri atau pabrik yang membuang limbah
industrinya ke sungai. Dengan demikian kegiatan manusia memberikan kontribusi yang amat besar terhadap terjadinya pencemaran lingkungan. Salah satu zat pencemar lingkungan yang sekarang serius diperbincangkan adalah logam berat. Limbah logam berat merupakan limbah yang berbahaya. Logam-logam berat umumnya bersifat toksik (racun) dan kebanyakan di air dalam bentuk ion. Logamlogam berat yang mencemari perairan bermacam-macam jenisnya, salah satunya adalah logam timbal (Pb).
Kadar logam dalam tubuh mahluk hidup dalam hal ini hewan, dapat dideteksi melalui daging, urine, darah, dan tulang. Kadar logam dalam darah dan urine menunjukkan jumlah logam yang masuk saat pengukuran dilakukan atau suatu saat tertentu. Hal ini dikarenakan logam dalam darah mengalami ekskresi dan urine merupakan hasil ekskresi. Kadar logam dalam daging dan tulang berhubungan dengan kadar logam dalam darah dan urine saat daging dan tulang
terbentuk. Dengan demikian daging dan tulang merupakan bagian tubuh hewan yang banyak mengakumulasi logam (Gani, A. A.,1997). Pada penelitian ini, penentuan kadar logam dalam kupang beras dilakukan melalui bagian cangkangnya. Pada filum molusca cangkang merupakan bagian tubuh yang strukturnya sama dengan tulang (Gosneer, 1971).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang ingin diungkapkan adalah adakah kandungan logam berat timbal (Pb) dalam cangkang kupang beras , berapakah kadar logam berat timbal (Pb) yang terkandung dalam cangkang kupang beras, bagaimanakah fluktuasi kandungan logam berat timbal dalam cangkang kupang beras selama periode tiga bulan dengan interval waktu dua minggu sekali.
http://www.ziddu.com/download/11247353/2.zip.html
industrinya ke sungai. Dengan demikian kegiatan manusia memberikan kontribusi yang amat besar terhadap terjadinya pencemaran lingkungan. Salah satu zat pencemar lingkungan yang sekarang serius diperbincangkan adalah logam berat. Limbah logam berat merupakan limbah yang berbahaya. Logam-logam berat umumnya bersifat toksik (racun) dan kebanyakan di air dalam bentuk ion. Logamlogam berat yang mencemari perairan bermacam-macam jenisnya, salah satunya adalah logam timbal (Pb).
Kadar logam dalam tubuh mahluk hidup dalam hal ini hewan, dapat dideteksi melalui daging, urine, darah, dan tulang. Kadar logam dalam darah dan urine menunjukkan jumlah logam yang masuk saat pengukuran dilakukan atau suatu saat tertentu. Hal ini dikarenakan logam dalam darah mengalami ekskresi dan urine merupakan hasil ekskresi. Kadar logam dalam daging dan tulang berhubungan dengan kadar logam dalam darah dan urine saat daging dan tulang
terbentuk. Dengan demikian daging dan tulang merupakan bagian tubuh hewan yang banyak mengakumulasi logam (Gani, A. A.,1997). Pada penelitian ini, penentuan kadar logam dalam kupang beras dilakukan melalui bagian cangkangnya. Pada filum molusca cangkang merupakan bagian tubuh yang strukturnya sama dengan tulang (Gosneer, 1971).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang ingin diungkapkan adalah adakah kandungan logam berat timbal (Pb) dalam cangkang kupang beras , berapakah kadar logam berat timbal (Pb) yang terkandung dalam cangkang kupang beras, bagaimanakah fluktuasi kandungan logam berat timbal dalam cangkang kupang beras selama periode tiga bulan dengan interval waktu dua minggu sekali.
http://www.ziddu.com/download/11247353/2.zip.html

1 komentar:
ada contoh penelitian logam berat pada makanan konsumsi gk gan??
Kalau gak keberatan saya ingin sekali bertukar link dengan blog ini...
http://www.inforedia.com/
Poskan Komentar
Silahkan Isi Komentar Anda, Tidak untuk Spaming!